Search This Blog

Thursday, October 1, 2026

Quasi Experiment

Sains4Genius • EduResearch Edition

Dua Kelas, Satu Diberi Perlakuan: Apakah Itu True Experiment?

Dua kelas, kelompok kontrol, pretest, dan posttest belum otomatis berarti eksperimen murni. Mekanisme assignment menentukan logika desain.

Research Compass • Metode Penelitian Pendidikan2 Oktober 2026± 9 menit baca
Infografik perbedaan true experiment dan quasi experiment berdasarkan random assignment dan kelas yang sudah terbentuk
Visual 1. Keberadaan dua kelas dan kelompok kontrol belum menentukan true experiment; mekanisme random assignment adalah kunci.
SEE

Anda memiliki kelas A dan kelas B. Hati-hati menyebutnya eksperimen murni.

Seorang mahasiswa meneliti model pembelajaran berbasis proyek. Kelas VIII-A menerima perlakuan, sedangkan VIII-B menjadi kelompok pembanding. Kedua kelas sudah dibentuk sekolah sejak awal semester.

Lalu di Bab III tertulis: “Penelitian ini menggunakan true experimental design.”

Masalah metodologisnya bukan pada ada atau tidaknya pretest, posttest, atau kelompok kontrol. Masalah pertama justru berada pada mekanisme assignment.

QUESTION

Apa yang benar-benar membedakan randomized experiment dan quasi-experiment?

Dalam randomized experiment, unit yang menjadi sasaran assignment—misalnya siswa atau kelas—dialokasikan ke kondisi perlakuan melalui mekanisme random yang sesuai desain. Randomisasi membantu memutus hubungan sistematis antara karakteristik awal dan penempatan kondisi.

Dalam quasi-experiment, assignment ke kondisi tidak sepenuhnya ditentukan oleh randomisasi peneliti. Di sekolah, hal ini umum terjadi karena kelas sudah terbentuk, kebijakan sekolah membatasi pengacakan, atau perlakuan diterapkan pada kelompok yang tersedia.

Pertanyaan pertama sebelum memilih uji statistik: “Bagaimana unit penelitian masuk ke kelompok perlakuan dan pembanding?”
IMAGINE

Dua skenario yang tampak mirip, tetapi logika kausalnya berbeda

Skenario A — random assignment

Enam puluh siswa dialokasikan secara acak ke dua kondisi. Perbedaan awal tetap mungkin terjadi secara kebetulan, tetapi mekanisme assignment memberi dasar inferensi kausal yang lebih kuat.

Skenario B — intact classes

Kelas VIII-A dan VIII-B sudah ada sebelum penelitian. Pemilihan dua kelas dapat membawa perbedaan kemampuan awal, guru, jadwal, budaya kelas, atau komposisi siswa.

Jika posttest berbeda, peneliti harus mempertimbangkan apakah perbedaan itu berasal dari perlakuan atau dari karakteristik kelompok yang sudah berbeda sebelum perlakuan.

EXPLAIN

Quasi-experiment bukan desain “kelas dua”

Quasi-experiment sangat penting dalam penelitian pendidikan karena randomisasi sering sulit atau tidak etis diterapkan. Tantangannya adalah selection bias dan confounding: faktor selain perlakuan dapat ikut menjelaskan perbedaan outcome.

What Works Clearinghouse (WWC) menempatkan baseline equivalence sebagai isu sentral untuk studi quasi-experimental. Dalam standar WWC, perbandingan baseline tidak direduksi menjadi sekadar “p pretest > 0,05”; besar perbedaan awal dan penyesuaian statistik juga diperhatikan.

Miskonsepsi

“Pretest tidak signifikan, berarti kelompok identik.”

≠

Interpretasi lebih aman

Non-significance tidak membuktikan identitas. Lihat besar perbedaan, distribusi, karakteristik penting, dan potensi confounding.

Infografik alur pembentukan kelompok, baseline, confounding, dan pemilihan analisis dalam penelitian quasi eksperimen
Visual 2. Alur desain dimulai dari pembentukan kelompok, pemeriksaan baseline dan confounding, baru kemudian pemilihan model analisis.
CHALLENGE

Jangan mengandalkan satu p-value untuk menilai baseline

Nilai p dipengaruhi ukuran sampel dan variabilitas data. Sampel kecil dapat menghasilkan p yang besar meskipun perbedaan awal cukup berarti secara substantif. Karena itu, evaluasi baseline sebaiknya memeriksa rata-rata, standar deviasi, standardized difference/effect size, distribusi, karakteristik peserta, dan faktor desain.

Catatan penting. ANCOVA atau regresi dapat membantu menyesuaikan perbedaan baseline yang terukur. Namun analisis statistik tidak dapat menjamin penghilangan seluruh confounding, khususnya confounder yang tidak diukur.
APPLY

Checklist sebelum menulis “desain eksperimen” di Bab III

1
Tentukan unit assignment. Siswa, kelas, sekolah, atau unit lain?
2
Jelaskan mekanisme assignment. Acak, pemilihan purposif, kelas utuh, atau kebijakan sekolah?
3
Ukur baseline yang relevan. Pretest outcome dan karakteristik yang secara teoritis terkait outcome.
4
Petakan confounding. Guru, jam belajar, lokasi, perangkat, seleksi kelas, dan faktor implementasi.
5
Pilih model analisis sesuai desain. Misalnya regresi/ANCOVA, model multilevel, matching, atau pendekatan lain bila sesuai asumsi dan struktur data.

Uji cepat

Dua kelas yang sudah terbentuk sekolah dipilih sebagai eksperimen dan kontrol. Peneliti tidak mengacak siswa maupun kelas. Apakah keberadaan pretest dan posttest otomatis menjadikannya true experiment?

Buka jawaban

Tidak. Klasifikasi desain bergantung pada mekanisme assignment dan struktur desain, bukan sekadar keberadaan pretest-posttest.

TAKEAWAY

Nama desain menjelaskan kekuatan klaim sebab-akibat

Jangan mulai dari pertanyaan “uji statistik apa yang saya pakai?”. Mulailah dari: siapa yang dibandingkan, bagaimana mereka masuk ke kelompok, kapan baseline diukur, dan ancaman validitas apa yang masih tersisa?

REFERENSI

Referensi ilmiah

  1. Shadish, W. R., Cook, T. D., & Campbell, D. T. (2002). Experimental and quasi-experimental designs for generalized causal inference. Houghton Mifflin.
  2. What Works Clearinghouse. (2022). What Works Clearinghouse procedures and standards handbook, version 5.0. U.S. Department of Education, Institute of Education Sciences.
  3. What Works Clearinghouse. (n.d.). Designing quasi-experiments: Meeting What Works Clearinghouse standards without random assignment.
Sains4Genius
Sains, pembelajaran, metode penelitian, dan analisis data—dibahas dengan bahasa yang dekat, tetapi tetap berbasis bukti.

No comments:

Post a Comment